Menuju Sosiologi Profetik

Kuntowijoyo
Kuntowijoyo

Oleh: Husnul Muttaqin
(Dimuat dalam Jurnal Sosiologi Reflektif, Vo. 1 Edisi 1, Oktober 2006, Prodi Sosiologi Fak. Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta)

Bagi August Comte, sang pencipta istilah “sosiologi”, sosiologi adalah puncak perkembangan positivisme. Tak heran jika kemudian ilmu yang satu ini berkembang dengan corak yang sangat positivistik. Sebenarnya Comte tidak sedang mengarahkan sosiologi untuk menjadi positivistik, ia hanya menyuarakan kecenderungan zaman. Di masanya, positivisme menjadi ukuran sahih tidaknya ilmu pengetahuan. Ilmu alam menjadi model bagi orientasi ilmu tentang masyarakat yang sebelum Comte disebut sebagai “fisika sosial”, atau ilmu pengetahuan alam tentang masyarakat. Proses-proses sosial tidak lagi dianggap sebagai produk kegiatan manusia yang bebas, tapi sebagai suatu peristiwa alam. 1)


Antara Sex, Birahi dan Cinta

Oleh: Husnul Muttaqin

Ketika judul di atas terlintas di kepala, saya membayangkan terjadinya sebuah dialog hangat antara seorang dokter, filosof, sufi dan seorang mahasiswa. Kata sang filosof: ”Sex, birahi dan cinta adalah insting dasar manusia yang luhur”. Tak mau kalah sufi kita bertutur dengan penuh penghayatan: “Di dalam birahi, sex dan cinta aku bertemu dengan Tuhan”. Sang dokter lalu menimpali: “Birahi merupakan gejolak yang muncul akibat rangsangan yang ditimbulkan oleh reaksi hormon-hormon kedewasaan. Melalui birahi, hubungan seksual menjadi mungkin”. “Cinta? Apa ya?”, dokter kita kebingungan. Giliran mahasiswa, dia berkata dengan sangat meyakinkan: “Sex, birahi dan cinta adalah nama lain dari ranjang !”

Demi Malam

Oleh: Husnul Muttaqin

Tulisan ini ingin mengkaji beberapa persoalan sosial dilihat dari bagaimana orang mempersepsikan atau mengkonseptualisasikan malam. Mungkin terkesan mengada-ada, tapi saya akan menunjukkan bahwa konsepsi tentang malam memiliki keterkaitan dengan persoalan perilaku seks bebas dan kepercayaan mistis yang berkembang dalam masyarakat. Tulisan ini akan diakhiri dengan bagaimana Islam mengkonsepsikan malam.

Sindikasikan konten